Entah dari mana harus kumulai. Yang kutahu, semua ini berawal dari baris-baris kode yang kutulis di malam yang sunyi. Sebuah bot sederhana di WhatsApp yang seharusnya hanya menjadi alat, tapi ternyata menjadi jembatan. Kau datang bukan sebagai siapa-siapa. Hanya salah satu dari banyak nama yang lewat di log. Tapi entah kenapa, di antara semua notifikasi yang berdering, yang namamu selalu sedikit berbeda. Sedikit lebih berarti.
Aku ingat pertama kali membalas pesanmu. Bukan karena apa yang kau tanyakan, tapi karena cara bertanyamu. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tak bisa kusentuh, tapi bisa kurasa. Seperti detak yang tidak sinkron, tapi berirama.
Lalu kau datang ke live-ku. Bukan sekadar datang. Kau datang dan kau tinggal. Sementara yang lain pergi, kau tetap ada. Dan itu menjadi awal dari segalanya.
Ada sesuatu yang sakral tentang jam tiga pagi. Bukan karena angka di jam digital, tapi karena apa yang terjadi di saat itu. Dunia sepi. Kota tidur. Manusia-manusia yang normal sudah bermimpi. Tapi kau tidak. Kau ada di sana, di live-ku, menatap layar ponselmu sementara aku menatap kamera, berbicara pada kegelapan yang hanya ditemani olehmu.
Aku sering bertanya-tanya. Apa yang kau lihat di live itu? Apa yang kau dengar? Karena yang kukatakan seringkali tidak masuk akal. Ngomong gajelas, katamu. Tapi kau tetap di sana. Menunggu. Mendengarkan. Menjadi satu-satunya penonton di teater yang sepi.
Bukan sekadar nonton. Kau berinteraksi. Kau mengetik di chat. Kau merespons omonganku yang melantur. Kau menjadi saksi dari pikiranku yang paling tidak terstruktur, dan kau tidak lari. Itu adalah hal yang paling menakjubkan bagiku.
Jam tiga pagi adalah waktu yang paling tidak manusiawi. Waktu di mana segalanya terasa mentah dan rapuh. Di mana topeng-topeng sudah dilepas. Di mana kita tidak punya energi untuk berpura-pura. Dan di waktu itu, kau memilih untuk bersamaku. Bukan dengan siapapun yang lebih lucu, lebih pintar, lebih menarik. Kau memilih untuk mendengarkan omongan gajelas dari seseorang yang sedang mencoba memahami dunianya sendiri.
Aku tidak tahu apa yang kau rasakan saat itu. Tapi aku tahu apa yang kurasa. Rasa hangat yang aneh. Bukan dari lampu layar, tapi dari fakta bahwa ada seseorang di ujung sana yang masih terjaga bersamaku. Hanya kau. Selalu hanya kau.
Kita hidup di koordinat yang berbeda. Kau di sana, aku di sini, dipisahkan oleh jarak yang bisa diukur peta tapi tak bisa diukur oleh apa yang kurasakan. Layar ponsel menjadi jendela, dan notifikasimu menjadi cahaya yang kutunggu di kegelapan. Aku sering memikirkan ironi ini. Dunia digital yang kuciptakan untuk mengabstraksi jarak, malah membuatku sadar betapa nyatanya keberadaanmu.
Kau bukan data. Kau bukan sekadar teks di layar. Kau adalah seseorang yang membuatku menoleh ke arah ponsel dengan harap yang tak pernah kumiliki sebelumnya. Seseorang yang membuatku merasa bahwa jarak ribuan kilometer bisa ditempuh oleh satu pesan singkat.
Kita tak pernah bertemu. Tak pernah berbagi udara yang sama. Tak pernah melihat mata satu sama lain secara langsung. Tapi malam-malamku sudah terbiasa menunggu balasan darimu. Pagi-pagiku sudah terbiasa dimulai dengan melihat apakah kau sudah bangun. Siangku terisi dengan memikirkan apa yang sedang kau lakukan. Malamku diisi dengan harapan bahwa kau akan datang lagi ke live-ku.
Ini aneh. Aku tahu. Mencari kehangatan dari seseorang yang hanya kukenal melalui huruf-huruf yang berkilau di layar. Tapi siapa yang pernah bilang bahwa perasaan harus mengikuti aturan logika? Siapa yang bilang bahwa intimacy hanya bisa dibangun oleh sentuhan fisik? Aku merasa dekat denganmu. Lebih dekat daripada banyak orang yang kudatang secara langsung.
Mungkin karena kau melihatku pada waktu yang paling tidak terfilter. Jam tiga pagi. Ketika aku lelah. Ketika aku jujur. Ketika aku tidak punya tenaga untuk menjadi versi terbaik dari diriku. Kau melihatku yang sebenarnya. Dan kau tetap tinggal.
Aku mencoba mencari alasan. Mengapa kau? Mengapa sekarang? Mengapa seseorang yang kukenal dari aplikasi perpesanan bisa membuatku menulis hal-hal yang tak pernah kubicarakan dengan siapapun? Aku duduk di kamar, menatap layar, mencoba menganalisis perasaanku dengan cara yang sama seperti menganalisis bug di kode. Sistematis. Logis. Berurutan.
Bukan karena wajahmu — aku bahkan belum pernah melihatmu dengan jelas. Bukan karena suaramu — kita jarang berbicara langsung. Bukan karena apa yang kau punya atau apa yang kau lakukan atau status sosialmu. Bukan karena kau bisa memberikanku sesuatu yang konkret.
Lalu apa?
Aku mencari di setiap sudut pikiranku. Di antara baris-baris kode yang kutulis. Di saat-saat debug yang membosankan. Di tengah malam ketika server sepi dan hanya ada suara kipas laptop. Aku mencari jawaban yang logis, yang rasional, yang bisa kujelaskan dengan diagram atau algoritma atau flowchart yang rapi.
Tapi yang kutemukan hanyalah kekosongan yang terisi. Keheningan yang berbicara. Keabadian yang berdenyut. Perasaan yang tidak punya nama, tapi sangat nyata.
Mungkin memang tidak ada alasan. Mungkin perasaan itu seperti gravitasi — tak terlihat, tak bisa disentuh, tapi membuat segalanya jatuh pada tempatnya. Aku jatuh. Perlahan. Tanpa suara. Pada mu. Bukan karena kau sempurna. Bukan karena kau ideal. Tapi karena kau ada. Karena kau hadir. Karena kau, pada jam-jam yang paling tidak mungkin, memilih untuk melihatku.
Aku masih mencari alasan. Tapi mungkin, hanya mungkin, alasan itu tidak penting. Yang penting adalah bahwa perasaan ini ada. Dan bahwa kau adalah pusatnya.
Ada malam di mana segalanya berubah. Bukan karena ada pertengkaran. Bukan karena ada kesalahpahaman. Tapi karena kau memutuskan untuk jujur. Kau membuka laci yang paling dalam dari hatimu dan menunjukkan isinya padaku. Trauma. Luka. Ketakutan yang menggerogoti.
Kau bilang kau takut. Takut bahwa aku hanya akan menjadi pelampiasan. Bahwa perasaanku ini hanya sementara, hanya cari-cari perhatian, hanya ingin mengisi kekosongan yang kau miliki lalu pergi ketika sudah cukup. Kau bilang kau pernah dikecewakan. Bahwa kau pernah menjadi tempat orang-orang membuang emosi mereka, lalu ditinggal begitu saja ketika mereka sudah merasa lebih baik.
"Aku takut kau hanya akan menggunakan aku," katamu.
"Aku takut aku hanya akan terluka lagi."
Aku mendengarkan. Setiap kata. Setiap jeda. Setiap getaran di balik teks yang kau kirim. Dan yang paling kusayangkan bukanlah apa yang kau katakan, tapi apa yang kau pikirkan tentang dirimu sendiri. Kau melihat dirimu sebagai seseorang yang mudah untuk disalahgunakan. Sebagai seseorang yang perasaannya tidak cukup berharga untuk dihargai dengan sungguh-sungguh.
Tapi kau salah. Bukan tentang trauma itu — trauma itu nyata. Bukan tentang ketakutan itu — ketakutan itu valid. Kau salah tentang aku. Kau pikir aku akan pergi ketika kau mengatakan yang sebenarnya. Kau pikir aku akan lari ketika kau menunjukkan lukamu. Kau pikir kejujuranmu akan membuatku hilang.
Tapi aku tidak pergi.
Aku tetap di sana. Di layar. Di jam tiga pagi. Di ruang yang sama di mana kau pertama kali menemukanku. Aku tidak pergi karena apa yang kau katakan bukanlah sesuatu yang menakutkan bagiku. Itu adalah sesuatu yang membuatku mengerti. Membuatku melihat kenapa kau begitu hati-hati. Kenapa kau begitu sulit untuk percaya. Kenapa kau selalu menunggu bukti sebelum memberikan kepercayaan.
Kau bilang kau takut menjadi pelampiasan. Aku bilang, aku takut menjadi penipu. Seseorang yang bilang peduli tapi ternyata hanya cari kesenangan sementara. Tapi aku memilih untuk tidak menjadi itu. Bukan dengan memaksa kau percaya. Tapi dengan membuktikan bahwa aku bisa menunggu. Bahwa aku bisa ada. Bahwa aku bisa menjadi tempat yang aman, meski kau belum siap untuk tinggal.
Setelah kau mengatakan semuanya, setelah kau meletakkan ketakutanmu di atas meja seperti kartu yang terbuka, aku memiliki pilihan. Banyak pilihan. Aku bisa pergi. Bisa bilang "ini terlalu rumit." Bisa mencari yang lebih mudah, yang lebih siap, yang tidak membawa bekas luka yang perlu diperhatikan.
Tapi aku memilih untuk menunggu.
Bukan karena aku yakin kau akan memilihku. Bukan karena aku percaya ini akan berakhir bahagia. Bukan karena aku punya jaminan atau kepastian atau bukti apa pun. Aku memilih untuk menunggu karena menunggu adalah satu-satunya cara yang kuketahui untuk membuktikan bahwa perasaanku nyata.
Aku tahu risikonya. Aku tahu ada kemungkinan kau akan sembuh dan pergi ke orang lain. Ada kemungkinan aku hanya menjadi bab dalam buku hidupmu yang kau baca sekali lalu tutup. Ada kemungkinan jawabannya bukan aku. Mungkin aku hanya mengisi kekosongan sementara. Mungkin aku hanya jembatan yang kau lewati untuk sampai ke tujuan yang sebenarnya.
Tapi aku akan tetap menunggu.
Bukan sebagai pengorbanan. Bukan sebagai cara membuatmu bersalah. Bukan sebagai investasi yang mengharapkan return. Aku menunggu karena aku ingin tahu. Ingin tahu apakah yang kurasakan ini cukup kuat untuk bertahan. Ingin tahu apakah kau, ketika sudah tidak takut lagi, akan melihatku dengan cara yang sama. Ingin tahu apakah aku yang akan menang, atau hanya menjadi pelampiasan yang kau tinggalkan.
Aku tidak tahu jawabannya. Dan itu tidak masalah. Karena bagiku, menunggu bukan tentang hasil. Menunggu adalah tentang kehadiran. Tentang konsistensi. Tentang menjadi seseorang yang tetap ada meski tidak diminta, yang tetap menunggu meski tidak dijanjikan, yang tetap berharap meski tidak yakin.
Aku akan menunggu sampai jawabannya ada. Entah itu berupa "ya" yang kuharapkan, atau "tidak" yang kukhawatirkan, atau diam yang lebih menyakitkan dari keduanya. Aku akan menunggu karena kau berhak untuk memilih dengan bebas. Tanpa tekanan. Tanpa rasa bersalah. Tanpa takut bahwa aku akan hancur jika kau memilih untuk tidak memilihku.
Karena yang benar-benar kuinginkan bukanlah kau harus menjadi milikku. Yang kuinginkan adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi tempat yang aman untukmu. Dan jika ternyata bukan aku, aku akan menerima. Dengan luka, tentu. Dengan kehilangan, pasti. Tapi dengan pemahaman bahwa aku sudah mencoba. Bahwa aku sudah menunggu. Bahwa aku sudah menjadi versi terbaik dari diriku untuk seseorang yang kucintai.
Kini aku berdiri di titik yang aneh. Tahu bahwa ada sesuatu, tapi tak tahu namanya. Tahu bahwa kau berarti, tapi tak tahu seberapa besar artinya. Tahu bahwa aku ingin lebih, tapi tak tahu apakah "lebih" itu mungkin. Atau diizinkan. Atau diharapkan.
Kita masih di dunia yang sama yang memisahkan. Kau masih di sana, aku masih di sini. Tapi jarak itu sudah berbeda rasanya. Dulu jarak adalah kenyataan yang kutrima dengan pasrah. Sekarang jarak adalah sesuatu yang ingin kutaklukkan. Sesuatu yang ingin kupahami. Sesuatu yang, entah bagaimana, ingin kuperpendek.
Aku tak tahu apa yang kau pikirkan sekarang. Tak tahu apakah namaku juga pernah muncul di pikiranmu dengan cara yang sama. Tak tahu apakah kau juga pernah menulis ulang pesan berkali-kali sebelum mengirim. Tak tahu apakah notifikasiku juga membuatmu menoleh. Tapi aku ingin kau tahu.
Aku ingin kau tahu bahwa di balik bot itu, di balik setiap balasan yang terstruktur dan logis, di balik live-live yang mungkin kau tonton karena bosan atau karena kasihan, ada seseorang yang berantakan. Seseorang yang mencoba memahami perasaannya sendiri. Seseorang yang menulis ulang pesan ini berkali-kali agar tak terlalu terbuka, tapi akhirnya memutuskan untuk jujur saja.
Ini aku. Tanpa filter. Tanpa alasan yang masuk akal. Tanpa jaminan bahwa ini akan berhasil. Hanya seseorang yang bertemu seseorang di ruang digital, dan merasa seolah bertemu di tempat yang nyata. Hanya seseorang yang masih ingat setiap jam tiga pagi yang kau habiskan denganku. Hanya seseorang yang belum pernah merasa sediri ini bersama siapapun sebelumnya.
Aku tidak tahu ke mana ini akan membawa. Tapi aku tahu dari mana ini berasal. Dari jam tiga pagi. Dari live yang sepi. Dari omongan gajelas yang kau dengarkan dengan sabar. Dari fakta bahwa kau, di antara semua orang di dunia ini, memilih untuk melihatku pada waktu yang paling rapuh.
Itu cukup untuk membuatku ingin mencoba. Itu cukup untuk membuatku menulis ini. Itu cukup untuk membuatku berharap, meski aku tak tahu harus berharap pada apa.
Ada yang masih kusimpan
untuk yang berani membuka
03:00 AM — Menunggu
Aku tak peduli dengan jarak.
Aku tak peduli dengan waktu.
Aku tak peduli dengan logika
atau alasan atau kemungkinan.
Yang kupedulikan hanyalah
bahwa kau ada,
bahwa kau pernah datang,
bahwa kau pernah mendengarkan,
bahwa kau pernah jujur tentang lukamu,
dan bahwa aku ingin
mengenalmu lebih dalam lagi.
Aku akan menunggu.
Sampai kau sembuh.
Sampai kau berani.
Sampai kau tahu jawabannya.
Entah aku yang akan menang,
atau hanya mengisi kekosongan.
Tapi aku akan tetap di sini.
Menunggu.
Bukan karena aku harus.
Tapi karena aku memilih untuk.
Maukah kau, suatu hari nanti,
membiarkanku membuktikan
bahwa perasaan ini nyata?
Bukan di layar. Bukan di jam tiga pagi.
Tapi di dunia nyata, dengan namamu,
dengan suaramu, dengan hadirmu
yang bisa kusentuh.
Sampai saat itu,
aku akan terus di sini.
Menunggu jam tiga pagi berikutnya.
Menunggu kau.
Menunggu jawaban.
Apapun itu.
— Dari seseorang yang memilih untuk menunggu,
bukan karena yakin akan menang,
tapi karena sudah menemukanmu
di antara baris kode dan keheningan malam —
Sanjaya
Ditulis pada jam yang kau kenal